PERMULAAN
TEORI BILANGAN
Bilangan pada awalnya hanya
dipergunakan untuk mengingat jumlah, namun dalam perkembangannya setelah para
pakar matematika menambahkan perbendaharaan simbol dan kata-kata yang tepat
untuk mendefenisikan bilangan maka matematika menjadi hal yang sangat penting
bagi kehidupan dan tak bisa kita pungkiri bahwa dalam kehidupan keseharian kita
akan selalu bertemu dengan yang namanya bilangan, karena bilangan selalu
dibutuhkan baik dalam teknologi, sains, ekonomi ataupun dalam dunia musik,
filosofi dan hiburan serta banyak aspek kehidupan lainnya.
Bilangan dahulunya digunakan sebagai
simbol untuk menggantikan suatu benda misalnya kerikil, ranting yang
masing-masing suku atau bangsa memiliki cara tersendiri untuk menggambarkan
bilangan dalam bentuk simbol diantaranya :
·
Simbol bilangan bangsa Babilonia:
·
Simbol bilangan bangsa Maya di Amerika pada 500 tahun
SM:
·
Simbol bilangan menggunakan huruf Hieroglif yang
dibuat bangsa Mesir Kuno:
·
Simbol bilangan bangsa Arab yang dibuat pada abad
ke-11 dan dipakai hingga kini oleh umat Islam di seluruh dunia:
·
Simbol bilangan bangsa Yunani Kuno:
·
Simbol bilangan bangsa Romawi yang juga masih dipakai
hingga kini:
Dalam
perkembangan selanjutnya, pada abad ke-X ditemukanlah manuskrip Spanyol yang
memuat penulisan simbol bilangan oleh bangsa Hindu-Arab Kuno dan cara penulisan
inilah yang menjadi cikal bakal penulisan simbol bilangan yang kita pakai
hingga saat ini.
A.
Bangsa
Sumeria dan Babilonia
Bangsa Sumeria
tinggal di bagian selatan Mesopotamia (Irak). Pada 2000 SM, peradaban mereka
diserang oleh Bangsa Babilonia, dan budaya Babilonia mencapai puncaknya sekitar
575 SM, di bawah kekuasaan kaisar Nebukadnezar. Bangsa Sumeria tinggal di
bagian selatan Mesopotamia (Irak). Pada 2000 SM, peradaban mereka diserang oleh
Bangsa Babilonia, dan budaya Babilonia mencapai puncaknya sekitar 575 SM, di
bawah kekuasaan kaisar Nebukadnezar.
Matematika
Babilonia merujuk pada seluruh matematika yang dikembangkan oleh bangsa
Mesopotamia (kini Iraq) sejak permulaan Sumeria hingga permulaan peradaban
helenistik. Dinamai “Matematika Babilonia” karena peran utama kawasan Babilonia
sebagai tempat untuk belajar. Pada zaman peradaban helenistik, Matematika
Babilonia berpadu dengan Matematika
Yunani dan Mesir untuk membangkitkan Matematika Yunani. Kemudian di bawah
Kekhalifahan Islam, Mesopotamia, terkhusus Baghdad, sekali lagi menjadi pusat
penting pengkajian Matematika Islam.
Bertentangan
dengan langkanya sumber pada Matematika Mesir, pengetahuan Matematika Babilonia
diturunkan dari lebih daripada 400 lempengan tanah liat yang digali sejak
1850-an. Lempengan ditulis dalam tulisan paku ketika tanah liat masih basah,
dan dibakar di dalam tungku atau dijemur di bawah terik matahari. Beberapa di
antaranya adalah karya rumahan. Bukti terdini matematika tertulis adalah
karya bangsa Sumeria, yang membangun peradaban kuno di Mesopotamia. Mereka
mengembangkan sistem rumit metrologi sejak tahun 3000 SM. Dari kira-kira 2500
SM ke muka, bangsa Sumeria menuliskan tabel perkalian pada lempengan tanah liat
dan berurusan dengan latihan-latihan geometri dan soal-soal pembagian. Jejak
terdini sistem bilangan Babilonia juga merujuk pada periode ini.
Sebagian
besar lempengan tanah liat yang sudah diketahui berasal dari tahun 1800 sampai
1600 SM, dan meliputi topik-topik pecahan, aljabar, persamaan kuadrat dan
kubik, dan perhitungan bilangan regular, invers perkalian, dan bilangan prima
kembar. Lempengan itu juga meliputi tabel perkalian dan metode penyelesaian
persamaan linear dan persamaan kuadrat. Lempengan Babilonia 7289 SM memberikan
hampiran bagi √2 yang akurat sampai lima tempat desimal. Matematika Babilonia
ditulis menggunakan sistem bilangan seksagesimal (basis-60). Dari sinilah
diturunkannya penggunaan bilangan 60 detik untuk semenit, 60 menit untuk satu
jam, dan 360 (60 x 6) derajat untuk satu putaran lingkaran, juga penggunaan
detik dan menit pada busur lingkaran yang melambangkan pecahan derajat. Juga,
tidak seperti orang Mesir, Yunani, dan Romawi, orang Babilonia memiliki sistem
nilai-tempat yang sejati, di mana angka-angka yang dituliskan di lajur lebih
kiri menyatakan nilai yang lebih besar, seperti di dalam sistem desimal.
B. Teori Bilangan Pada Suku Bangsa Mesir Kuno
Matematika Mesir merujuk pada
matematika yang ditulis di dalam bahasa Mesir. Sejak peradaban helenistik
matematika Mesir melebur dengan matematika Yunani dan Babilonia yang
membangkitkan Matematika helenistik. Pengkajian matematika di Mesir berlanjut
di bawah Khilafah Islam sebagai bagian dari matematika Islam, ketika bahasa Arab
menjadi bahasa tertulis bagi kaum terpelajar Mesir.
Tulisan matematika Mesir yang paling
panjang adalah Lembaran Rhind (kadang-kadang disebut juga “Lembaran Ahmes”
berdasarkan penulisnya), diperkirakan berasal dari tahun 1650 SM tetapi mungkin
lembaran itu adalah salinan dari dokumen yang lebih tua dari Kerajaan Tengah
yaitu dari tahun 2000-1800 SM. Lembaran itu adalah manual instruksi bagi
pelajar aritmetika dan geometri.
Selain
memberikan rumus-rumus luas dan cara-cara perkalian, pembagian, dan pengerjaan
pecahan, lembaran itu juga menjadi bukti bagi pengetahuan matematika lainnya,
termasuk bilangan komposit dan prima; rata-rata aritmetika, geometri, dan
harmonik; dan pemahaman sederhana Saringan Eratosthenes dan teori bilangan
sempurna (yaitu, bilangan 6). Lembaran itu juga berisi cara menyelesaikan
persamaan linear orde satu juga barisan aritmetika dan geometri. Naskah
matematika Mesir penting lainnya adalah lembaran Moskwa, juga dari zaman
Kerajaan Pertengahan, bertarikh kira-kira 1890 SM. Naskah ini berisikan soal
kata atau soal cerita, yang barangkali ditujukan sebagai hiburan.
C. Teori
Bilangan Pada Suku Bangsa India
Sulba Sutras (kira-kira 800–500 SM)
merupakan tulisan-tulisan geometri yang menggunakan bilangan irasional,
bilangan prima, aturan tiga dan akar kubik; menghitung akar kuadrat dari 2
sampai sebagian dari seratus ribuan; memberikan metode konstruksi lingkaran
yang luasnya menghampiri persegi yang diberikan, menyelesaikan persamaan linear
dan kuadrat; mengembangkan tripel Pythagoras secara aljabar, dan memberikan
pernyataan dan bukti numerik untuk teorema Pythagoras.
Kira-kira abad ke-5 SM merumuskan
aturan-aturan tata bahasa Sanskerta menggunakan notasi yang sama dengan notasi
matematika modern, dan menggunakan aturan-aturan meta, transformasi, dan
rekursi. Pingala (kira-kira abad ke-3 sampai abad pertama SM) di dalam risalah
prosodynya menggunakan alat yang bersesuaian dengan sistem bilangan biner.
Pembahasannya tentang kombinatorika bersesuaian dengan versi dasar dari teorema
binomial. Karya Pingala juga berisi gagasan dasar tentang bilangan Fibonacci.
Pada sekitar abad ke 6 SM, kelompok Pythagoras mengembangkan sifat-sifat bilangan lengkap (perfect number), bilangan bersekawan (amicable number), bilangan prima (prime number), bilangan segitiga (triangular number), bilangan bujur sangkar (square number), bilangan segilima (pentagonal number) serta bilangan-bilangan segibanyak (figurate numbers) yang lain.
Pada sekitar abad ke 6 SM, kelompok Pythagoras mengembangkan sifat-sifat bilangan lengkap (perfect number), bilangan bersekawan (amicable number), bilangan prima (prime number), bilangan segitiga (triangular number), bilangan bujur sangkar (square number), bilangan segilima (pentagonal number) serta bilangan-bilangan segibanyak (figurate numbers) yang lain.
Salah satu sifat bilangan segitiga
yang terkenal sampai sekarang disebut triple Pythagoras, yaitu : a.a + b.b =
c.c yang ditemukannya melalui perhitungan luas daerah bujur sangkar yang
sisi-sisinya merupakan sisi-sisi dari segitiga siku-siku dengan sisi miring
(hypotenosa) adalah c, dan sisi yang lain adalah a dan b. Hasil kajian yang
lain yang sangat popular sampai sekarang adalah pembedaan bilangan prima dan
bilangan komposit. Bilangan prima adalah
bilangan bulat positif lebih dari satu yang tidak memiliki Faktor positif
kecuali 1 dan bilangan itu sendiri. Bilangan positif selain satu dan selain
bilangan prima disebut bilangan komposit. Catatan sejarah menunjukkan bahwa
masalah tentang bilangan prima telah menarik perhatian matematikawan selama
ribuan tahun, terutama yang berkaitan dengan berapa banyaknya bilangan prima
dan bagaimana rumus yang dapat digunakan untuk mencari dan membuat daftar
bilangan prima.
Dengan berkembangnya sistem
numerasi, berkembang pula cara atau prosedur aritmetis untuk landasan kerja,
terutama untuk menjawab permasalahan umum, melalui langkah-langkah tertentu,
yang jelas yang disebut dengan algoritma. Awal dari algoritma dikerjakan oleh
Euclid. Pada sekitar abad 4 S.M, Euclid mengembangkan konsep-konsep dasar
geometri dan teori bilangan. Buku Euclid yang ke VII memuat suatu algoritma
untuk mencari Faktor Persekutuan Terbesar dari dua bilangan bulat positif
dengan menggunakan suatu teknik atau prosedur yang efisien, melalui sejumlah
langkah yang terhingga. Kata algoritma berasal dari algorism.
Pada zaman
Euclid, istilah ini belum dikenal. Kata Algorism bersumber dari nama seorang
muslim dan penulis buku terkenal pada tahun 825 M., yaitu Abu Ja’far Muhammed
ibn Musa Al-Khowarizmi. Bagian akhir dari namanya (Al-Khowarizmi), mengilhami
lahirnya istilah Algorism. Istilah algoritma masuk kosakata kebanyakan orang
pada saat awal revolusi komputer, yaitu akhir tahun 1950. Pada abad ke 3 S.M.,
perkembangan teori bilangan ditandai oleh hasil kerja Erathosthenes, yang
sekarang terkenal dengan nama Saringan Erastosthenes (The Sieve of
Erastosthenes). Dalam enam abad berikutnya, Diopanthus menerbitkan buku yang
bernama Arithmetika, yang membahas penyelesaian persamaan didalam bilangan
bulat dan bilangan rasional, dalam bentuk lambang (bukan bentuk/bangun
geometris seperti yang dikembangkan oleh Euclid). Dengan kerja bentuk lambang ini,
Diopanthus disebut sebagai salah satu pendiri aljabar.
D. Teori
Bilangan Pada Masa Sejarah (Masehi)
Awal
kebangkitan teori bilangan modern dipelopori oleh Pierre de Fermat (1601-1665),
Leonhard Euler (1707-1783), J.L Lagrange (1736-1813), A.M. Legendre
(1752-1833), Dirichlet (1805-1859), Dedekind (1831-1916), Riemann (1826-1866),
Giussepe Peano (1858-1932), Poisson (1866-1962), dan Hadamard (1865-1963).
Sebagai seorang pangeran matematika, Gauss begitu terpesona terhadap keindahan
dan kecantikan teori bilangan, dan untuk melukiskannya, ia menyebut teori
bilangan sebagai the queen of mathematics.
Pada masa ini, teori bilangan tidak hanya berkembang sebatas konsep, tapi juga banyak diaplikasikan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini dapat dilihat pada pemanfaatan konsep bilangan dalam metode kode baris, kriptografi, komputer, dan lain sebagainya.
Pada masa ini, teori bilangan tidak hanya berkembang sebatas konsep, tapi juga banyak diaplikasikan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini dapat dilihat pada pemanfaatan konsep bilangan dalam metode kode baris, kriptografi, komputer, dan lain sebagainya.
Tokoh-Tokoh
Teori Bilangan
1.
Pythagoras (582-496 SM)
Pythagoras adalah seorang
matematikawan dan filsuf Yunani yang paling dikenal melalui teoremanya. Dikenal
sebagai “Bapak Bilangan”, dia memberikan sumbangan yang penting terhadap filsafat dan ajaran
keagamaan pada akhir abad ke-6 SM.
Salah satu peninggalan Pythagoras yang terkenal adalah teorema Pythagoras, yang menyatakan bahwa kuadrat hipotenusa dari suatu segitiga siku-siku adalah sama dengan jumlah kuadrat dari kaki-kakinya (sisi-sisi siku-sikunya). Walaupun fakta di dalam teorema ini telah banyak diketahui sebelum lahirnya Pythagoras, namun teorema ini dikreditkan kepada Pythagoras karena ia yang pertama kali membuktikan pengamatan ini secara matematis.
Salah satu peninggalan Pythagoras yang terkenal adalah teorema Pythagoras, yang menyatakan bahwa kuadrat hipotenusa dari suatu segitiga siku-siku adalah sama dengan jumlah kuadrat dari kaki-kakinya (sisi-sisi siku-sikunya). Walaupun fakta di dalam teorema ini telah banyak diketahui sebelum lahirnya Pythagoras, namun teorema ini dikreditkan kepada Pythagoras karena ia yang pertama kali membuktikan pengamatan ini secara matematis.
2.
Jamshid Al-Kashi (1380 M)

Al-Kashi terlahir pada 1380 di Kashan, sebuah padang pasir
di sebelah utara wilayah Iran Tengah. Selama hidupnya, al-Kashi telah
menyumbangkan dan mewariskan sederet penemuan penting bagi astronomi dan
matematika. Pecahan desimal yang digunakan oleh orang-orang Cina pada
zaman kuno selama berabad-abad, sebenarnya merupakan pecahan desimal yang
diciptakan oleh al-Kashi. Pecahan desimal ini merupakan salah satu karya
besarnya yang memudahkan untuk menghitung aritmatika yang dia bahas dalam
karyanya yang berjudul Kunci Aritmatika yang diterbitkan pada awal abad ke-15
di Samarkand.
3.
Abu Ali Hasan Ibnu Al-Haytam (965 M)
Abu Ali Hasan Ibnu Al-Haytam lahir Basrah Irak, yang oleh
masyarakat Barat dikenal dengan nama Alhazen. Al-Haytam adalah orang pertama
yang mengklasifikasikan semua bilangan sempurna yang genap, yaitu bilangan yang
merupakan jumlah dari pembagi-pembagi sejatinya, seperti yang berbentuk
2k-1(2k-1) di mana 2k-1 adalah bilangan prima. Selanjutnya Al-Haytam
membuktikan bahwa bila p adalah bilangan prima, 1+(p-1)! habis dibagi oleh p.
4.
Pierre de Fermat

Fermat menuliskan bahwa “I
have discovered a truly remarkable proof which this margin is to small to
contain”. Fermat juga hampir selalu menulis catatan kecil sejak tahun 1603,
manakala ia pertama kali mempelajari Arithmetica karya Diophantus. Ada kemungkinan
Fermat menyadari bahwa apa yang ia sebut sebagai remarkable proof ternyata
salah, karena semua teorema yang dia nyatakan biasanya dalam bentuk tantangan
yang Fermat ajukan terhadap matematikawan lain. Meskipun kasus khusus untuk n =
3 dan n = 4 ia ajukan sebagai tantangan (dan Fermat mengetahui bukti untuk
kasus ini) namun teorema umumnya tidak pernah ia sebut lagi. Pada kenyataannya
karya matematika yang ditinggalkan oleh Fermat hanya satu buah pembuktian.
Fermat membuktikan bahwa luas daerah segitiga siku- siku dengan sisi bilangan
bulat tidak pernah merupakan bilangan kuadrat. Jelas hal ini mengatakan bahwa
tidak ada segitiga siku-siku dengan sisi rasional yang mempunyai luas yang sama
dengan suatu bujursangkar dengan sisi rasional. Dalam simbol, tidak terdapat
bilangan bulat x, y, z dengan sehingga bilangan kuadrat. Dari sini mudah untuk
mendeduksi kasus n = 4, Teorema Fermat. Penting untuk diamati bahwa dalam tahap
ini yang tersisa dari pembuktian Fermat Last Theorem adalah membuktikan untuk
kasus n bilangan prima ganjil. Jika terdapat bilangan bulat x, y, z dengan maka
jika n = pq, .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar